Dalam perjalanan balik ke Kota Bandung dari rumahku di Wonogiri kali ini, aku rencana naik kereta Harina dari Kota Semarang, alasan ga benernya sih pengen sekalian jalan2 di Semarang, alasan sebenernya karena ga dapat tiket kereta Lodaya untuk Solo Balapan-Bandung, hehe. Menempuh perjalanan sekitar 6 jam dengan bus dari Ngadirojo (Wonogiri) – Solo – Semarang, aku sampai di Semarang sekitar jam 2 siang. Setelah menikmati sepiring mie goreng Jawa dan sholat dhuhur di salah satu pusat keramaian, sekalian untuk sholat Ashar, aku dan seorang teman menuju salah satu tempat kebanggaan Semarang, Masjid Agung Jawa Tengah. Kesan pertama melihat masjid ini, megaaaah plus keren arsitekturnya. Masjid yang terletak di Jalan Gajah Raya Semarang ini luas bangunannya sekitar 7.669 m2 dengan halaman seluas 7500 m2, luas kan?? Arsitekturnya campur2, katanya sih perpaduan arsitektur Jawa, Timur Tengah dan Roma, sehingga membuatnya unik ^^

Tiba di masjid, di depan terdapat enam air mancur mini yang menggambarkan enam rukun iman. Diantara air mancur, ada lima tulisan rukun Islam : Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Haji. Sayang air mancurnya tidak dinyalakan pada waktu aku berkunjung, katanya sih area ini suka dipake tempat nongkrong. Ke arah menuju masjid, terdapat batu prasasti peresmian yang ditandatangani oleh Presiden SBY tahun 2006.

Gerbang megah yang bernama Al Qanathir yang memiliki 25 tiang sebagai simbolisasi jumlah nabi dalam Islam serta terdapat ukiran kaligrafi Iafaz dua kalimat syahadat menyambut kita memasuki halaman masjid. Di kanan kiri, terdapat enam payung hidrolik raksasa yang dapat membuka dan menutup secara otomatis, mengadopsi dari Masjid Nabawi di Kota Madinah.

Pada dinding-dinding masjid tertera kaligrafi yang terukir indah. Ornamen-ornamen bernuansa arsitektur Roma terasa pula sentuhannya di beberapa bagian masjid. Bangunan utamanya beratapkan kubah besar, dilengkapi di bagian luarnya empat menara yang runcing menjulang ke langit. Sebuah replika beduk raksasa dan Quran raksasa juga bisa ditemukan disana.

Di dekat area parkir, terlihat menara masjid setinggi 99 meter yang disebut Menara Asmaul Husna. Dengan tiket masuk seharga Rp 5.000,-, pengunjung bisa menikmati pemandangan Kota Semarang dari ketinggian di lantai 19, menikmati jamuan makan di Resto Putar di lantai 18, ataupun museum dan perpustakaan Islami di lantai 2. Menara ini dibuka untuk umum pada pukul 08.00 sd 21.00 dengan 2 kali istirahat waktu sholat Dhuhur dan Maghrib. Pada waktu mau masuk ke menara, kebetulan mendekati waktu istirahat sholat Maghrib, jadi menunggu waktu buka pukul 18.30.

Setelah sholat Maghrib, antrian panjang menanti di pintu masuk menara. Hm, ternyata memang ga sia2 mengantri. Pemandangan malam Kota Semarang dengan lampu2 berkilauan dan kembang api yang menyala dari berbagai sudut terlihat indah. Jika menginginkan, dengan tambahan biaya Rp 500,- pengunjung bisa menggunakan teropong yang disediakan. Karena lapar, aku turun ke lantai di bawah untuk makan malam. Katanya, lantai resto itu bisa berputar 360 derajat selama 15 menit, namun sayang tidak bisa kurasakan. Setelah kenyang, masih penasaran dengan museum dan perpustakaan di lantai 2, namun ga bisa masuk karena lantai itu hanya dibuka sampai pukul 16.00.

Setelah sholat Isya, lanjut perjalanan menuju Stasiun Tawang Semarang yang ga terlalu jauh dari lokasi masjid. Dengan kereta Harina berangkat pukul 20.35, perjalanan Semarang-Bandung dimulai ^^ Hmm, sejenak singgah di Semarang, masih ada beberapa tempat yang ingin kukunjungi. Semoga ada kesempatan di lain waktu. Yuk yuk, jalan2 lagiiiii…