“Terbang tinggi ke awan
Mungkin ada yang bisa ku temukan
Menyeberangi ilalang
Walaupun jauh yang harus ku tempuh

Jalan masihlah panjang
Banyak keinginan yang dilupakan
Masih harus berjuang
Percayalah masih ada banyak harapan

Terbanglah terbang raihlah mimpi
Jangan berhenti terbanglah serdadu kumbang

Maju serdadu kumbang
Jangan menyerah rintangan menghalang
Tenang jalani semua
Percayalah harapan itu masih ada”

Lagu Ipang ini menjadi sound track dari sebuah film bertema pendidikan dengan judul yang sama, “Serdadu Kumbang”. Film produksi Ali Sihasale ini menceritakan kisah anak2 di Sumbawa NTB yang memiliki cita2 tinggi meski memiliki kekurangan. Gantungkan cita-cita setinggi langit, jangan cuma sampai di dahan-dahan pohon saja. Amek, Acan, dan Umbe dengan berbagai keterbatasan dan kelebihannya menjadi contoh yang baik bagi anak-anak bangsa ini untuk tidak pernah berhenti bercita-cita.

Amek, bocah yang menderita bibir sumbing, tinggal bersama “Inaq” (ibunya) Siti dan kakaknya Minun di sebuah rumah panggung sederhana yang jauh dari kota, sejak ia ditinggal ayahnya Zakaria (Jack) merantau mengadu nasib ke Malaysia. Selain tiga sahabat sejati, Amek juga memiliki seekor kuda kesayangan yang diberi nama “Smodeng”. Kendati hidup dalam kondisi serba kekurangan, ketiga bocah Bukit Mandar itu masing-masing punya cita-cita. Amek, misalnya ingin menjadi penyiar dan presenter TV nasional.

Awalnya ia sama sekali tak percaya diri karena kekurangannya itu. Apalagi ia sempat tidak lulus Ujian Nasional (UN) tahun lalu. Hal tersebut yang membuatnya semakin tidak yakin bisa menggapai cita-citanya. Perjuangan Amek, Minun, dan sahabat-sahabatnya yang lain dalam meraih cita-cita tidak semulus yang dibayangkan. Beberapa kali tidak lulus Ujian Nasional, namun tidak sampai membuat mereka putus asa. Mereka bahkan menempuh cara yang tidak wajar agar bisa lulus ujian. Amek dan teman-temannya menggantungkan secarik kertas bertuliskan cita-cita mereka kemudian dimasukkan ke dalam botol dan digantungkan di dahan pohon yang oleh masyarakat setempat dinamakan “Pohon Cita-cita”.

Pendapatku mengenai film ini, hmmm, alur ceritanya cukup bisa ditebak, meski terkesan loncat2. Mengangkat tema sosial dan pendidikan, berbagai kritikan mengenai keadaan negeri kita saat ini cukup membuat mata terbuka. Panorama alam, dengan setting lokasi di alam Sumbawa yang indah dengan padang rumput dan pantainya, membuatku ingin bertandang kesana. Mendukung pariwisata dalam negeri buat berkembang, hehehe. Film ini bisa menjadi penyegar dunia perfilman Indonesia, di tengah film horor ga jelas yang lebih mirip film p*rn* :p