salah satu agenda hari ini, silaturahmi dengan sahabat2ku, refresh bareng ke Ciwangun Indah Camp yang berada di kawasan Lembang. mentadaburi alam ciptaan Allah yang membuatku berdecak kagum, tak henti2nya mata berbinar melihat keindahannya.

sembari sarapan, rehat sebentar. sharing mengenai kisah sahabat Rasul. pernah dengar tentang sahabat bernama Mush’ab bin Umair, duta pertama Islam? Aku sih baru dikenalkan, hehehe

sekilas tentang beliau:

Di adalah seorang remaja Quraisy terkemuka, seorang yang tampan, otaknya cerdas, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan. Ia salah satu diantara pribadi-pribadi Muslimin yang ditempa oleh Islam dan dididik oleh Muhammad SAW.

Ketika Mush’ab menganut Islam, tiada satu kekuatanpun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri. Sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang pada akhirnya mengetahui berita keislamannya. Dengan adanya perintah hijrah, dia tinggalkan Mekah menuju Habsyi. Baik di Habsyi ataupun di Mekah, ujian dan penderitaan yang harus dilalui Mush’ab di tiap saat dan tempat kian meningkat.

Rasulullah berkata tentang Mush’ab :

“Dahulu saya lihat Mush’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan yang dialaminya selama itu, dan memilih hidup miskin dan sengsara. Tapi jiwanya yang telah dihiasi dengan aqidah suci dan cemerlang berkat sepuhan Nur Ilahi, telah merubah dirinya menjadi seorang manusia lain, yaitu manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani.

Suatu saat Mush’ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting, menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan seluk beluk Agama kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan bai’at kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Di samping itu mengajak orang-orang lain untuk menganut Agama Allah, serta mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijratul Rasul sebagai peristiwa besar.

Mush’ab memikul amanat itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa fikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Sesampainya di Madinah, didapatinya Kaum Muslimin di sana tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah bai’at di bukit Aqabah. Tetapi tiada sampai beberapa bulan kemudian, meningkatlah orang yang sama-sama memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Beliau meyakini Islam ini adalah dienul-haq, dan harus disampaikan dengan haq (benar) pula, bukan dengan bujukan apalagi paksaan. Mush’ab terkenal sangat lembut namun tegas dalam menyampaikan da’wahnya, termasuk ketika ia diancam dengan pedang oleh Usaid bin Khudzair dan Sa’ad bin Muadz, dua pemuka Bani Abdil Asyhal. Dengan tenang, Mush’ab berkata:

“Kenapa anda tidak duduk dan mendengarkan dulu? Seandarinya anda menyukai nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang tidak anda sukai itu!”

Keduanya terdiam dan menerima tawaran Mush’ab, duduk mendengarkan apa yang dikatakannya. Mereka ternyata tidak hanya sekedar tertarik, dengan seketika keduanya bersyahadat. Mereka kemudian kembali kepada kelompok masyarakatnya dan mengajak mereka semua memeluk Islam.

Saat perang Badar, Mush’ab tampil sebagai pembawa bendera. Menyadari keadaan gawat saat Rasulullah diincar musuh, Mush’ab mengalihkan perhatian musuh dengan mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bagaikan ngauman singa ia bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju ke muka, melompat, mengelak dan berputar lalu menerkam. Dengan demikian dirinya pribadi bagaikan membentuk barisan tentara. Sungguh, walaupun seorang diri, tetapi Mush’ab bertempur laksana pasukan tentara besar. Sebelah tangannya memegang bendera bagaikan tameng kesaktian, sedang yang sebelah lagi menebaskan pedang dengan matanya yang tajam

Beliau gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada pada perang Uhud. Dan hal itu dialaminya setelah dengan keberanian luar biasa mengarungi kancah pengurbanan dan keimanan. Di saat itu Mush’ab berpendapat bahwa sekiranya ia gugur, tentulah jalan para pembunuh akan terbuka lebar menuju Rasulullah tanpa ada pembela yang akan mempertahankannya. Demi cintanya yang tiada terbatas kepada Rasulullah dan cemas memikirkan nasibnya nanti, ketika ia akan pergi berlalu, setiap kali pedang jatuh menerbangkan sebelah demi sebelah tangannya, dihiburnya dirinya dengan ucapan :

“Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”.

Kalimat yang kemudian dikukuhkan sebagai wahyu ini selalu diulang dan dibacanya sampai selesai, hingga akhirnya menjadi ayat Al-Qur’an. Subhanallah ^^

“Di antara orang-orang Mu’min terdapat pahlawan-pahlawan yang telah menepati janjinya dengan Allah.” (QS Al-Ahzab : 23)

(sumber: rasulullahsaw.atwiki.com)

Melanjutkan perjalanan menuju Curug Tilu,, penuh tantangan di perjalanan. Suka banget menjelajah, kembali menjadi bolang, haha, keluar dech tomboy-ku (>.<“)

Satu hal yang terasa jadi pelajaran saat perjalanan, setiap orang itu punya potensi, namun seberapa mampu kita melejitkan potensi itu kembali kepada kemauan kita ^^ ada yang mengeluh dan hampir menyerah, namun saat dikembalikan pada tujuan, maka semangat itu akan menghilangkan lelah yang timbul. Ma’rifatun nafs, mengenali diri. Mari lejitkan potensi diri kita, menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih baik lagi, dan lagi,, dan lagi, hehehe, meni semangat nya’. semoga penyakit kambuhanku ga sering muncul, amiiiin >.<

hmmm… pelajaran apa lagi ya dalam petualangan selanjutnya?