Setiap orang yang dilahirkan di muka bumi ini pasti memiliki perbedaan. Terlepas ia dilahirkan kembar ataupun melahirkan karena perbedaan rentang beberapa waktu.

Berbeda..

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu bersinggungan dengan perbedaan. Perbedaan seringkali menjadi pemicu masalah yang berlanjut menjadi konflik bila kita memahami, mengatasi dan menyikapinya dengan cara yang tidak tepat.

Walaupun secara hakikat, manusia itu sama, tetapi tak pernah ada manusia yang benar-benar sama dalam segala hal. Kemiripan wajah, kesamaan hobi, bahkan ikatan batin dan pertautan rasa yang kuat pun tidak menjadikan kita sama dengan mereka atau aku adalah dia dan kamu adalah saya. Kita berbeda dan memiliki perbedaan karena perbedaan adalah harmoni yang membuat hidup kita lebih berarti.

Di dalam perbedaan, tersimpan arti yang pantas untuk dimengerti. Dengan perbedaan, kita mampu merasakan makna kebersamaan, sehingga kita bisa memahami bahwa perbedaan adalah alasan untuk sebuah pengertian.

Perbedaan merupakan keadaan, sifat dan karakter yang diciptakan Tuhan dengan tujuan agar manusia saling mengenal, berinteraksi, saling memahami dan memberi manfaat satu sama lain. Memahami dan menyikapi perbedaan dan memang bergantung kepada cara pandang kita terhadap perbedaan tersebut.

Alloh SWT menciptakan alam semesta dengan segala keunikan perbedaan. Alloh menciptakan pula keanekaragaman dalam satu jenis penciptaan semisal spesies katak, spesies burung, tanaman, dan bahkan ras manusia. Dia menciptakan perbedaan agar ciptaan dapat saling mengenal dan membentuk harmoni.

Perbedaan ditinjau sisi ragam usul, pendapat, bahkan hingga doktrin terkadang jika kita tidak cerdas dalam menyiasati dan menyikapinya akan berujung konflik. Sikap saling menentang dan menantang ini mudah sekali memicu pertengkaran. Walaupun pertengkaran itu hanya terjadi di meja makan ataupun di meja diskusi. Tetap saja hanya akan menciptakan efek kelelahan. Lelah hati, lelah pikiran. Kelelahan dapat memicu kekecewaan. Kekecewaan adalah medan magnet bagi kedengkian.

Di dalam kumpulan suatu masyarakat terkadang perbedaan pendapat kerapkali dianggap sebagai musuh dan belum menjadi sebuah kebiasaan dalam suatu masyarakat.

So, let’s we’re Think Out of The Box.

Tahap Awal yang harus kita miliki, belajarlah dalam berbeda pendapat dan carilah persamaannya.

Bukankah orang yang berbeda pendapat itu bagus (jika tutur kata, penyampaian lisan, ekspresi yang dilakukan dengan baik, bijak, dan santun). Kalau semua pendapatnya sama, buat apa dilakukan berkumpul.

Bukankah..
Kita butuh pendapat yang berbeda supaya bisa menambah wawasan kita.
Kita butuh pendapat yang berbeda supaya bisa mengukur pendapat kita (benar atau tidaknya)
Kita butuh pendapat yang berbeda supaya kita bisa makin kokoh & kuat. Carilah ilmu yang baik. Beda pendapat boleh. namun, janganlah menimbulkan permusuhan.

Menurut penjelasan Aa’ Gym, ada beberapa solusi yang dapat kita tempuh untuk menyatukan, yaitu :

Pertama, Jangan menonjolkan perbedaan.
Seseorang bahkan suatu bangsa akan rapuh jika tidak bisa menyikapi perbedaan. Jangan sibuk melihat perbedaan sebelum sibuk melihat persamaan. Jika kita terus mempermasalahkan perbedaan maka semua akan jadi musuh. Beda pendapat adalah wahana saling melengkapi

Kedua, jangan sibuk menonjolkan diri sendiri.
Makin sibuk seseorang menonjolkan diri sendiri dia akan makin tidak disukai oleh lingkungannya dan tidak akan bersatu. Oleh karena itu berhentilah menyebut kebaikan diri sendiri dan merasa berjasa.

‘Semakin ingin kita dipuji, semakin ingin dihormati, makin sering sakit hati. Kalau ingin dihargai jangan overacting. Jika didalam suatu bangunan, bahan bangunan saling menonjolkan diri. Semen merasa menonjolkan diri, Besi merasa menonjolkan diri, begitupun pasir juga dan lain-lain. Maka, bangunan tidak akan bisa bersatu. Belajarlah untuk tidak harus saling menonjolkan diri dan tidak merasa paling penting, jadilah seperti Besi beto, yang saling melengkapi dan menguatkan. Jadilah seperti Jantung. Tidak pernah banyak omong. Namun, jantung selalu bekerja setiap hari tanpa henti. Jadilah seorang yang Ikhlas. Orang yang ikhlas itu pandai menyembunyikan kebaikannya sebagaimana menyembunyikan keburukannya.

Dikisahkan Asshiddiq Abu Bakar Ra. selalu gemetar saat dipuji orang.

“Ya ALLAH, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka dan ampunilah daku lantaran ketidaktahuan mereka”

Tempatkanlah sesuatu pada tempatnya dan sesuai porsinya. Hal ini merupakan realisasi dari bersikap dan bertindak adil. Bersikap wajar dan bertindak benar merupakan cara tepat menyikapi perbedaan”.

Ketiga, jangan meremehkan orang lain.
Seseorang, menurutnya, tidak akan bisa berprestasi jika tidak mampu menghargai prestasi orang lain.
Ketika Nabi Isa AS dihina oleh orang lain. Nabi Isa menjawab dengan perkataan yang baik, beliau berkata

“Setiap orang akan menafkahkan apa yang dimilikinya”

Keempat, Memulai segala sesuatunya dari diri sendiri.

Kalau ingin sukses, berhentilah berharap dari orang lain. Bersandarlah hanya pada Allah semata. Berbuatlah untuk orang lain. Seikhlas dan semampu yang kita lakukan walaupun bernilai kecil dan jangan pula lah selalu menuntut terhadap orang lain.

Jika diri kita diibaratkan sebagai jari kelingking. Jika kita disuruh memindahkan meja. yang terjadi, maka jari kelingking kita akan patah. Sadar bahwa diri kita hanyalah sebagai kelingking, janganlah selalu terlalu berharap dan menuntut kepada yang lain.

Orang yang terlalu sibuk menuntut orang lain, tanpa berbuat sesuatu. Dia lah yang akan dibinasakan oleh tuntutannya itu sendiri.

Mengucapkan salam adalah satu dari sekian banyak penyebab seseorang bisa masuk surga. Beliau Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

”Wahai manusia, sebarkanlah ucapan salam, hubungkanlah tali kekerabatan, berilah makanan, dan sholatlah pada waktu malam ketika orang-orang tengah tertidur, engkau akan masuk surga dengan selamat” (HR. Muslim).

Rasulullah Shollallohu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

”Maukah kamu aku kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu” (HR. Muslim).

“Sesungguhnya seseorang itu akan mendapat balasan sesuai apa yang telah diniatkannya” (HR. Bukhori dan Muslim).

Disebutkan juga dalam ayat Allah:

“Jika kalian diberi salam penghormatan, balaslah dengan cara yang lebih baik atau dengan yang serupa” (QS An Nisa :86 )

“Jadilah PERBEDAAN itu menjadi SINERGI untuk selalu Saling Melengkapi dan Saling Menguatkan”

(diambil dari Renungan dan Kisah Inspiratif)