“Dari mana kau dapatkan setiap tarikan nafasmu? Sudahkah kau bersyukur?”

Beberapa baris kalimat yang  kulihat pagi itu di depan rumah tetanggaku “menampar” diriku.  Mungkin orangnya tak sengaja meletakkan papan itu di depan rumah karena hanya ingin berbenah.

Sebuah kalimat sederhana. Kalimat yang sebenarnya sudah tidak aneh lagi bagiku, mungkin bagi kita. Berpikir mengenai sejarah dari papan itu, papan itu adalah papan yang digunakan sebagai dinding kamar. Setiap orang tersebut bangun atau akan tidur, mungkin yang pertama kali dan terakhir dilihatnya adalah tulisan itu. Sebagai pengingat dirinya,, sebagai motivasi untuk menjalani hari yang lebih baik. Sudahkah kita melakukannya? Mengingatkan diri kita akan hal-hal tersebut??

Ketika kenikmatan dunia senantiasa menghujani namun amal soleh tidak berbanding lurus dan meningkat dengan kenikmatan yang diterima. Dimanakah letak kurangnya kasih sayang Allah SWT kepada kita? Kita senantiasa menuntut hak kita terhadap Allah SWT, namun rasa syukur kita ketika mendapat nikmat-Nya tak pernah kita tunjukan dihadapan-Nya walau hanya sekedar ucapan “Alhamdulillah”.

Kita malah terlupa dan kadang lupa diri, bahwa apapun nikmat yang kita terima sesungguhnya berasal dari Allah SWT. Terkadang, kebanyakan dari kita hanya ingat kepada-Nya sewaktu diri tertimpa musibah dan kesempitan dalam hidup. Padahal, dengan mengingat Allah SWT disaat lapang dan kebahagiaan hidup menghampiri akan mendatangkan kecintaan Allah SWT dan insya Alloh di saat kesusahan menghampiri kehidupan, Allah SWT akan berbalik mengingat kita.

Waktu dan kesempatan kita miliki. Sudahkah kita mensyukurinya dengan memanfaatkannya untuk hal2 bermanfaat, yang makin mendekatkan diri kita pada Sang Pencipta?

Aku mendapatkan pelajaran siang itu. Ketika menunda2 suatu pekerjaan, tanpa sadar pekerjaan itu penting atau tidak, akibatnya bisa seperti efek domino, panjaaaang. Suatu hal yang kuanggap sepele, ternyata bisa membuat orang lain terugikan, mungkin bisa jadi kehilangan pekerjaannya. Tak pernah kuterpikir sebelumnya, jika kelalaianku akan waktu dengan menunda mengerjakan hal sepele tersebut, maka ada orang lain yang akan dipersalahkan, ada lembaga yang akan mengalami kerugian, ada orang lain yang mungkin akan kehilangan pekerjaannya, bagaimana nasib keluarganya, anak istrinya? Astaghfirulloh,, ampuni hamba Ya Allah.

Waktu,, akan terus berjalan, tanpa bisa kita hentikan. Akankah kita menjadi hamba yang merugi karena tidak bisa mensyukuri waktu yang kita miliki??

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS Al Jaatsiyah [45] : 23)