Ada sebuah kisah yang menyentuh hati. Pada tahun 1986 di New York, diselenggarakan lomba lari marathon tingkat dunia yang diikuti oleh ribuan pelari. Ada satu peserta yang menjadi pusat perhatian karena ia berbeda dengan para peserta lainnya. Ia tak memiliki sepasang kaki yang menjadi modal utama dalam kejuaran itu. Tapi ia tak kehilangan akal dan semangat untuk berpartisipasi dalam lomba tersebut. Sebagai pengganti kakinya, ia menggunakan kedua tangannya untuk menempuh jarak puluhan kilometer dan mencapai garis finis sebagai tujuan akhirnya. Dia akan sulit sekali memenangkan lomba  itu.

Pada putaran pertama ia jauh tertinggal di belakang peserta lainnya. Kilometer demi kilometer harus ditempuhnya dengan susah payah. Beberapa kali ia harus mengganti sarung tangannnya yang koyak. Meskipun ia hanya mampu berlari sejauh 10 kilometer sehari, tapi ia terus berlari. Di hari kelima, ia masih berusaha untuk menyelesaikan lomba tersebut dengan melempar-lemparkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangannya. Dokter yang melihat kondisi jantung, alat pernafasan, serta pencernaannya  kian melemah ditambah luka-luka di tangannya, menyarankan ia menyerah. Tapi ia justru memejamkan mata dan mulai berlari lagi. Sang ayah yang hadir di antara ribuan penonton yang menyaksikan perjuangannya hanya berteriak menyemangati: “Ayo, bangkit! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun! Tunjukkan ke semua orang siapa dirimu, jangan menyerah! Cepat bangkit!!!”

Akhirnya si pelari tanpa kaki ini benar-benar menyelesaikan pertandingan itu dan yang tak pernah disangka-sangka oleh banyak orang: IA MENANG! Namanya pun digoreskan dalam Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon. Dialah Bob Willen, veteran perang Amerika yang kehilangan kedua kakinya akibat ranjau saat bertugas di medan perang Vietnam. Kemenangannya telah memupuskan prediksi banyak orang akan kegagalan dirinya di ajang marathon itu. Dan ia adalah salah satu ayat (bukti) betapa tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini, karena mungkin-tidak mungkin adalah kuasa Allah sebagai penentu segalanya yang terjadi di alam dan seisinya.

Sama halnya ketika Allah memungkinkan Nabi Musa dan Bani Israil melintasi lautan ketika dikejar oleh Firaun di Laut Merah. Seperti dikisahkan dalam QS.Yunus ayat 90: “Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga tatkala Firaun itu telah hampir tenggelam, berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)“.

Dalam ayat ini sesungguhnya Allah ingin menunjukkan kepada manusia bahwa siapapun orangnya, bagaimanapun keadaannya, apapun tantangan dan hambatannya, akan selalu ada kemungkinan yang lahir ketika ia telah berusaha untuk mencapai apa yang diimpikannya dengan berserah diri pada Allah.

Beberapa orang bahkan telah membuktikan hal tersebut. Gola Gong, yang sejak usia sebelas tahun harus kehilangan satu tangannya karena kecelakaan, berhasil menelurkan banyak karya dengan satu tangan saja. Atau penulis senior, ada Ibu Ratna Indraswari Ibrahim, yang juga sejak usia 10 tahun harus kehilangan fungsi organ tangan dan kakinya. Dokter memvonis radang tulang (rakhitis) yang dideritanya akan bersamayam sampai usianya purna. Namun sekali lagi, itu bukan alasan untuknya berhenti berkarya, meski tanpa tangan atau kaki.

Cerita-cerita tentang kesuksesan di balik keterbatasan yang menjadi sebuah kisah nan ajaib bagi sebagian besar orang. Hal ini karena akal manusia dibatasi oleh pengalaman sehingga  manusia juga senantiasa dilingkupi ketidakmungkinan-ketidakmungkinan di sekitarnya. So, di sinilah fungsi iman yang ada dalam diri kita. Kepercayaan dan keyakinan kita pada sesuatu yang akan kita capai akan mewujudkan hal-hal yang imposibble menjadi posible. Dalam Hadits Qudsi Allah telah menegaskan hal ini, bahwa sesungguhnya Allah berada di tiap-tiap prasangka hamba-Nya. Kalau kita berprasangka kepada Allah dengan baik, Dia pun akan baik sama kita. Begitu juga sebaliknya. Optimis dalam hidup. Terus semangat berusaha, hasil akhir serahkan pada Allah semata.

Dalam Al Quran Surat Al Insyirah ayat 5:  “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Yakinlah di balik keras dan runcing-runcingnya kulit durian tersimpan daging legit yang harum banget. Di sela-sela ngeselinnya duri bandeng, terkandung daging gurih kaya protein. Jangan pesimis, cemen, atau maju-mundur-maju-mundur kayak mainan kanak-kanak di depan minimarket, kalau nggak dimasukin koin nggak jalan.

Kalau nggak diri kita sendiri yang keukeuh berusaha sambil tetap meminta kepada-Nya, lalu siapa lagi? Kalau cuma ngandelin doa restu ortu sementara kita diam, sama aja kayak ngedorong mobil bobrok! Mari kita bangun optimisme dan jangan meragukan kuasa-Nya. Yuk belajar ikhtiar dan tawakal. Percayalah, semua serba mungkin (atau malah nggak mungkin) di tangan-Nya.

Semua hal mungkin dan bisa kalau Allah menghendaki ^^

Sumber: Bianglala, Majalah Annida